KALAM REDAKSI
PANGKALPINANG – Salah satu bentuk perang asimetris adalah perang persepsi. Pertempuran untuk mendominasi persepsi publik berjalan sempurna, ketika media sosial didominasi oleh algoritma kubu yang paham celah pikiran masyarakat. Contoh mudahnya saat pemerintah menaikkan harga BBM sebagai misal, sekejap saja linimasa akan penuh glorifikasi kegagalan pemerintah untuk memenuhi hajat hidup rakyatnya sesuai amanat UU, Senin 24 Agustus 2026.
Dalam pengamatan media ini, bentuk narasi kekecewaan masyarakat berakal sehat tidak serta merta jadi bagian perang asimetris tadi. Bentuk paling kentara dari mereka yang punya akun buzzer salah satunya adalah, anonim. “Tidak punya profile yang jelas, kadang kurang ajarnya mereka malah memakai photo perempuan berhijab sebagai kamuflase,” kata seorang teman di X.
Kenaikan harga BBM yang sudah jadi rencana regulasi pemerintah tidak melulu merupakan kegagalan sebuah rezim berkuasa. Tapi mirisnya adalah, celah sempit bertajuk rakyat kecewa tadi justru jadi pintu masuk –diduga Telik sandi asing ikut bermain.
Sementara itu, dilansir Metrotv, Satuan Siber (Satsiber) TNI mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi berbagai informasi di media sosial menjelang rencana aksi demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Agustus mendatang.
Komandan Satsiber TNI, Brigjen TNI J.O. Sembiring, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi-narasi provokatif. Pihaknya menyoroti penggunaan ruang digital yang kerap dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab untuk memanipulasi opini publik dan mengganggu stabilitas keamanan.
“Ancaman penyebaran disinformasi secara masif menjadi perhatian utama Satsiber TNI. Informasi palsu yang terus disebarkan dinilai berpotensi memicu kepanikan massal serta merusak persatuan masyarakat,” tukasnya.
Bagaimana pola social media destruction ala buzzer?
Yang pertama, kelompok buzzer ini begitu terstruktur dan masif. Polanya adalah, isu sosial diberitakan oleh media bergincu, selanjutnya akan diviralkan oleh buzzeRp, and then bagai kodok bangkong di musim hujan, mereka bersahut-sahutan. Menunggu mangsa netizen berakal sehat masuk dalam perangkap tadi. Ketika dikomen sedikit, wuuzzz. Siap-siap saja akun kalian disengat ribuan komen balasan yang luar biasa jahatnya.
Jadi sekali lagi polanya, ambil berita media mainstream yang sudah terkooptasi dengan skema perang asimetris, viralkan lewat akun berbayar, saling bersahutan memancing warganet lainnya. Selanjutnya adalah proses brainwash ala Joseph Goebbels akan dijalankan dengan seksama. Ketika warganet masih bertahan dengan logikanya yang waras, spin doktor akan ikut turun tangan.
Dalam film “The Dissident” karya Brian Fogel tahun 2020, di film tersebut dijelaskan tentang bagaimana tentara sosmed berupa lebah pendengung bekerja. Ketika satu akun oposisi melontarkan kritik di timeline, seketika ratusan akun anonim akan menghancurkan narasi kritik tadi. Dan kritik pun terkubur.
Baca : The New York Times
Di dalam negeri, contoh paling mudah diingat adalah, sewaktu buzzer berbayar menyepin narasi awal soal kenaikan harga BBM untuk kemudian dikaitkan dengan perang Iran-USA yang notabene kecil kaitan langsungnya. Maka otak netizen awam akan mudah terkooptasi jadi ‘benci’ dengan pemerintah. Padahal tidak seperti itu situasi yang sebenarnya. Cadangan migas kita cukup –menurut Menteri ESDM Bahlil sampai 20 hari kedepan. Tapi namanya juga buzzer yang cari makan dari fitnah, mereka tanpa kenal ampun akan terus penuhi sosmed dengan Pseudo reality.
Sudah ada dua polanya : Fabrikasi kebohongan hingga jadi kebenaran semu, memutarbalikkan fakta hingga warganet akan lunglai karena ada ratusan akun menyerang bersamaan.
Jadi sekali lagi media ini mengingatkan, berhati-hati serta dewasalah dalam mengambil narasi di sosial media. Sebab perlu diketahui, salah satu pintu paling mudah bagi bangsa asing untuk mengadu domba kita semua ada disana. Juga, perhatikan polanya. Jika sudah berbentuk ajakan anarkis, hate everything. Maka dipastikan itu adalah Devide Et Impera gaya baru.
Akhirul kata, bangsa ini tidak kekurangan orang pintar dan hebat. Namun perlu digaris-bawahi, ada sejenis penyakit dusta yang terus menerus disemburkan ke ruang publik. Terutama sejak kurun 10 tahun terakhir. Selain dusta, peran buzzeRp ini harus segera dibenahi dengan aturan hukum yang jelas dan tegas. Akun fenomenal di platform Kaskus jadi barometernya.
Sebab lainnya adalah, anak cucu kita nanti puluhan tahun kedepan. Akan melontarkan sumpah serapah seraya mengutuk aktor pemecah belah bangsa seperti buzzeRp ini. Tidak fitnah tidak makan. Betapa kejinya slogan mereka tersebut. Sekian. (***)
Oleh : M.Lukman Hakim ~ Wartawan

