Whoever controls the media, controls the mind ~ Jim Morrison

Pangkalpinang burningnews.online — FRAMING atau pembingkaian atas suatu peristiwa yang tentunya dilakukan oleh media -biasanya ada ‘deal’ tertentu- dikhawatirkan jadi catatan hitam di dalam dunia jurnalistik itu sendiri. Framing bukan saja merendahkan profesi mulia dari hakekat sebuah berita, yang konon menurut beberapa tetua dunia tulis menulis yang pernah ditemui : kedudukan seorang jurnalis atau wartawan adalah seperseribu dari tugas ke-Nabi-an. Yakni, membawa atau menyampaikan kebenaran. Bedanya sudah pasti jauh sekali tidak bisa serta merta disamakan. Jika Nabi membawa “informasi” kebenaran langsung dari Allah Ta’ala Tuhan Seru Sekalian Alam berupa wahyu. Nah, saat amanah seperti itu diemban seorang wartawan.

Selayaknya manusia biasa, Ia harus mengambil resiko dengan mengumpulkan, mencatat, dan selanjutnya merangkum kepingan informasi berupa data lapangan buah investigasi langsung, fakta hasil wawancara dari berbagai narasumber yang validasinya bisa diungkap atau jika wartawan menilai adanya potensi bahaya dari informasi yang diungkap biasanya akan disebut sebagai anonim.. Tahap kedua adalah bahan mentah tadi akan disusun dengan pola baku dalam kaidah jurnalistik yang akurat, berimbang serta mampu dipertanggungjawabkan. Tak lupa bumbu kode etik jurnalistik akan ditebar dalam tangga paragraf sehingga tiap nama, tempat, peristiwa yang dimuat bisa bernilai sebagai karya jurnalistik.

Adakalanya, walaupun untaian paragraf yang disusun tadi sudah lewati screening kaidah jurnalistik yang benar serta pedoman Kode Etik Jurnalistik pun tak jarang dalam beberapa peristiwa masih juga dicari celah untuk dilaporkan oleh para pihak oportunis yang sedang berada dalam kelindan kepentingan yang sama dengan narasumber misalnya. Memang benar narasumber dengan wajah tersenyum membalas tiap pertanyaan yang ada dalam catatan kecil pewarta, meski begitu tatkala kepentingannya terusik dan dan dinilai masuk kategori bisa viral dan menghancurkan Big Scene Bung Besar. Maka bukan tidak mungkin adagium “Kill The Messenger” akan dijadikan dirty jobs oleh dirty hands yang diperintah oleh dirty minds.

Peristiwa seperti ini tidak hanya menimpa kalangan wartawan yang baru -termasuk penulis- berkecimpung di Kawah Gemblengan kompetisi. Bahkan wartawan kawakan selevel tokoh pers nasional pun, jika rekeningnya di Bank Asing sudah berisikan “skenario pesanan” dari bohir atau pihak yang diuntungkan dengan serangan Big Scene tadi, doyong juga bossku. Gamblangnya adalah dua peristiwa besar yang beratmosfer beda diliput oleh awak media baik media arus utama ataupun media level gurem. Seperti media burningnews.online misalnya.

Sebab, sederhana saja bray kita mengulitinya. Hal apa yang membuat jejeran awak media yang diketahui qualified secara status atau dengan kata lain dapat disebut si wartawan yang dekat dengan bedinde-bedinde kekuasaan, justru tak mampu menelurkan satu patah kata pun artikel tentang pemberangusan beberapa smelter misalnya. Ditingkahi pula dengan penjarahan massal di beberapa smelter tertentu yang ngerinya lagi diketahui oleh jejeran oknum-oknum berseragam. Apakah ada jaringan lebih besar yang punya invisible hands mencegah mereka? Who knows?

Sebuah silent framing sedang ditayangkan dengan asumsi sudah berpindahnya haluan idealis wartawan ke arah oportunis. Pertaruhan sangat mahal untuk sebuah profesi yang mulia. Apalagi justru teman-teman wartawan akar rumput yang jeli bergerilya demi mengumpulkan bukti. Malu gak tuh malah oposan yang mampu pegang data, sementara si wartawan setengah dewa kekunci tangannya. Oleh apa saudara-saudara sekalian? Oleh iklan dan sebangsanya. Oleh traktat level petinggi yang terikat balas budi.

Namun demikian apakah yang disebut pembingkaian alias framing dalam media?

Framing merupakan bagian dari strategi komunikasi media dan/atau komunikasi jurnalistik. Pengertian sederhananya adalah, framing merupakan susunan informasi atau kemasan informasi tentang suatu peristiwa dengan misi pembentukan opini atau menggiring persepsi publik terhadap sebuah peristiwa. Kategori benar atau salahnya urusan kesekian.

Framing berita merupakan perpanjangan dari teori agenda setting, yaitu pemilihan fakta dalam sebuah peristiwa yang dinilai penting disajikan dan dipikirkan pembaca (publik).

Robert M. Entman, penerima penghargaan riset Humboldt 2012. Karya-karyanya berpengaruh pada disiplin komunikasi terutama jurnalisme dalam perspektif kritis menyatakan pendapatnya bahwa to frame is to select some aspects of a perceived reality and make them more salient in communicating text, in such a way as to promote a particular problem definition, causal interpretation, moral evaluation, and/or treatment recommendation for the ite desired. Atau dalam bahasa kita bisa dikatakan sebagai berikut, membingkai adalah memilih beberapa aspek realitas yang dirasakan dan menjadikannya lebih menonjol dalam teks komunikasi, sedemikian rupa sehingga mendorong definisi masalah tertentu, penafsiran kausal, evaluasi moral, dan/atau rekomendasi penanganan untuk hal yang diinginkan.

Framing jelas tidak berbohong, tapi ia menyajikan fakta-fakta demi tujuan tertentu secara halus melalui penyeleksian informasi, penonjolan aspek tertentu, pemilihan kata, meletakkan paragraf unggulan untuk membentuk opini sedari awal, bahkan pemilihan gambar, hingga secara tak sadar pembaca akhirnya menelan informasi yang tidak sesuai dengan fakta jika ditaruh dalam artikel dengan nihil kepentingan.

Framing memang bertujuan untuk membingkai sebuah informasi agar melahirkan: citra, kesan, makna tertentu yang diinginkan media, atau wacana yang akan ditangkap oleh khalayak.

Secara teoritis, framing adalah cara pandang yang digunakan wartawan atau media dalam menyeleksi isu dan menulis berita. Framing adalah bagaimana wartawan melaporkan sebuah peristiwa berdasarkan sudut pandangnya – ada fakta yang sengaja ditonjolkan, bahkan ada fakta yang dibuang. Inti dari framing adalah bagaimana sebuah fakta ditonjolkan dan dikaburkan.

Pendapat yang paling mendekati untuk menilai Framing yang dilakukan secara masif dan kontinyu oleh beberapa media arus utama adalah menurut Michael J. Carter. Menurut Carter (2013:4), suatu frame memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1) Melakukan perorganisasian (organizing). Framing bervariasi dalam bagaimana framing memframing informasi dengan sukses, komprehensif, dan lengkap. Bagaimana frame diorganisasikan tidaklah sekedar rangkuman bagian-bagian pada kisah tertentu melainkan frame-frame merupakan sesuatu yang lebih besar daripada satu kisah saja sebab berita- berita peristiwa biasanya memiliki referensi ke sesuatu yang serupa atau telah terjadi sebelumnya.

2) Mengandung prinsip-prinsip (principles). Frame didasarkan pada prinsip-prinsip abstrak dan tidak sama dengan teks-teks yang mana framing muncul memanifestasikan dirinya. Frame memiliki kualitas-kualitas abstrak, alat atau sketsa interpretasi yang mengarahkan pembacaan atas suatu isu atau peristiwa spesifik ke dalam pemahaman tertentu. Oleh karena frame mengorganisasi informasi, mau tidak mau frame merupakan bagian dari seperangkat struktur atau ideologi sosial yang dapat terbaca pada teks.

3) Dihayati bersama (socially shared). Suatu frame pada derajat tertentu dapat dipahami oleh banyak orang karena adanya penghayatan budaya yang sama. Suatu peristiwa diinterpretasi seseorang lalu hal itu dikisahkan ke orang lain dalam frame tertentu. Adanya penghayatan bersama memungkinkan frame tersebut dapat dipahami dan dianggap penting pula oleh –tak hanya penutur- pendengar kisah tersebut.

4) Berlaku ajeg (persistent). Signifikansi frame terletak pada durabilitas yaitu keajegan dan penggunaan rutin dari waktu ke waktu. Frame-frame yang berpengaruh adalah frame yang ajeg dari waktu ke waktu dan bukan tidak mungkin frame yang sering muncul itu dianggap sebagai realitas itu sendiri. Keajegan, pengulangan terus menerus suatu frame menciptakan makna-makna yang kebal akan perubahan. Informasi di masa depan yang terdiri dari peristiwa yang serupa akan diproses dan dibandingkan dengan kejadian masa lalu, yang kemudian diinterpretasi oleh frame. Menurut Carter, semakin ajeg suatu frame, semakin frame sering digunakan sebagai komparator untuk informasi baru;

5) Presentasi secara simbolis (symbolic). Frame dapat dikenali pada bentuk-bentuk ekspresi simbolik. Teknik-teknik frame bekerja dengan menggunakan simbol-simbol yang diharapkan jurnalis dapat mempengaruhi audiens. Representasi-representasi simbolis itu dikomunikasikan pada berbagai level yang jauh di permukaan atau konten yang manifes.

6) Mengandung struktur (structure). Frame-frame terorganisir dengan pola-pola atau struktur-struktur, yang bervariasi pada kompleksitasnya. Ketika sebuah isu dibingkai pertama kali, pola- pola mungkin belum terlihat. Namun ketika media meliput isu-isu.

Bagaimana Framing Bekerja?

Penggunaan bingkai atau framing dalam produksi berita adalah konsekuensi logis (dan manusiawi) dari keterbatasan media menampilkan realita. Seorang jurnalis tidak mungkin bisa memindahkan seluruh sisi peristiwa yang baru saja diliputnya dan pasti membutuhkan sebuah angle atau sudut pandang. Dengan menonjolkan satu sisi dan menenggelamkan sisi lainnya, media menawarkan definisi dan interpretasi atas sebuah peristiwa.

Sebuah misal yang menurut penulis bisa dijadikan contoh kasus berlakunya sebuah framing adalah soal sengkarutnya tata kelola pertimahan. Dimana sepanjang pengalaman penulis, carut marut dunia sumber daya alam di tanah air -berdasarkan fakta yang diungkap media detikX- salah satunya berasal dari main matanya oknum petugas negara ke jaringan bandit perlente berjuluk “Oknum Bos Timah”. Adagium ini bukan isapan jempol semata. The author’s personal experience says something like that. Mulai dari kata sakti koordinasi, bisnis sewa alat berat hingga penyediaan bahan bakar solar untuk tambang merupakan ceruk basah bisnis yang disinyalir turut melibatkan oknum-oknum.

Sebenarnya sah-sah saja jika seorang pribadi -mungkin kebetulan oknum- ingin jadi orang kaya. Tapi masalahnya adalah ada paradoks abadi yang menyertai ketika sosok oknum tadi pada akhirnya bingung memisahkan antara bongkahan pribadi dirinya sebagai pebisnis, dengan seragam negara yang melekat di badannya di hadapan masyarakat umum. Sebuah konflik pribadi yang tak kunjung berkesudahan. Abadi sampai akhirnya ornamen hukum pun dibuat bingung.

Gamblangnya begini, coba diingat-ingat peristiwa yang baru saja terjadi menyangkut seorang petinggi hukum(institusi kejaksaan). Bukankah pada akhirnya, hukum dibuat gelagapan? Terbukti di institusi satunya, namun “seolah” dilindungi di institusi temannya. Dicari salahnya di kamar sebelah, disaat yang sama dilindungi mati-matian di kamarnya. Ruwet ruwet ruwet seperti kata mantan Presiden Jokowi. Hehehe.

Epilog

Jadi pembaca, dapat dibedakan adanya framing atau tidak adalah dalam tataran kepentingan. Jika anda tidak punya kepentingan apapun, muatlah berita seperti yang almarhum Udin tulis, atau seperti Miroslava Breach yang dibunuh secara brutal 2017 di negara bagian Chihuahua, Meksiko sebelah utara. Miroslava dibunuh karena memberitakan dengan detil -dengan semangat menjaga tunas bangsanya dari bahaya narkoba- anggota geng lokal serta hubungan mereka dengan politisi.

Baik Udin dan Breach tidak hanya membingkai apa yang Ia “suka” atau mungkin apa yang “dipesan” Mereka berdua justru membingkai seluruh peristiwa sebenarnya. Sehingga baik kubu yang diuntungkan atau yang dirugikan dengan terbitnya berita tadi akan bersatu memusnahkan sebuah dangerous brand berlabel Udin dan Breach dari cakrawala. Nah itu baru salute ndro.

Akhirul kalam, sebagai sesama pegiat pers ada baiknya kita saling menahan diri. Dan mampu melihat frame yang lebih luas lagi, kalau bahasa sundanya kurang lebih begini : try to see a big dream and learn how to do that. Karena, jika media sudah saling serang satu sama lain, akibatnya adalah ruang literasi publik terkena dampak polusi permusuhan dari open war yang sedang berkecamuk. Bukankah salah satu fungsi pers adalah to educate public? So, saran saya yang fakir ilmu ini, masing-masing kita lebih bisa lagi untuk menahan diri lah, jangan sampai target operasi para telik sandi asing dan asong sukses terlaksana karena mereka “paham” yang mana yang harus dikompori mana yang mereka harus pura-pura buta dan tuli. Demikian kira-kira. (*)

 

Oleh : (M.Lukman Hakim) ~ Wartawan – Penulis

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *