KALAM REDAKSI

Pangkalpinang — Seorang kawan yang berprofesi sebagai redaktur berita sebuah kantor media duduk termenung, saat menyaksikan betapa gesit dan cekatannya awak redaksi dibawah pimpinannya menyelesaikan tenggat artikel yang seharusnya jam 17:00 wib sore itu, malah maju selangkah tuntas jam 15:58 wib. Padahal bahan berita baru saja masuk di jam 15:30 wib tadi.

“Makdirabit, cepet bener itu bocah nulis, cuma setengah jam kurang loh. Apa karena gizi anak sekarang bagus ya? Atau karena mereka memang pintar lulusan cumlaude dari fakultas mereka? Atau, jangan-jangan mereka nekat menggunakan aplikasi Artificial Intelligence yang banyak berserakan di apple store di gadget besutan almarhum Steve Jobs yaks?” begitu kerumunan pertanyaan menghinggapi benak teman redaktur tadi.

Permasalahannya adalah, bukan boleh atau tidaknya mereka menggunakan aplikasi yang telah diunduh lebih dari semilyar manusia di dunia ini. Dengan perincian, 557 juta pengguna mengunduh ChattGPT, sementara sisanya berbagi dengan yang lain. Gemini AI sedikitnya mampu menarik minat pemuja donlot sebesar 70,1 juta end users.

Sebuah angka yang tidak main-main. Untuk mesin pencari yang awalnya diprakarsai oleh Ilmuwan Alan Turing pada tahun 1950, dan terus dikulik oleh John McCarthy pada tahun 1956. Nah, di era Om John McCarthy inilah istilah Artificial Intelligence pertama kali dikenalkan pada panggung teknologi dunia.

Justru masalahnya adalah berkutat di orisinalitas karya yang akan kalian buat. Bagaimana pun ciamik hasilnya, yang paling kentara di mata teman redaktur tadi adalah, si wartawan instant mirip kopi sachet tadi telah seminimnya berupaya “menipu” si redaktur dengan berpura-pura bisa dan mampu, padahal hasil dari kecerdasan semu.

“Tidak bisa? Ya Belajar. Tidak ngerti? Ya bertanya. Jadi wartawan? Ya harus pandai menulis. Tapi, tidak jujur? Silahkan cari kantor lain,” begitu sungut sang redaktur.

Kembali ke laptop. Kawan redaktur tadi akhirnya punya ide bagaimana kalau artikel racikan AI dengan label nama penulis anak buahnya tersebut dimasukan dalam mesin pencarian milik salah satu penyedia jasa AI. Dan hasilnya sungguh membagongkan. Begitu detil AI tersebut menelanjangi paragraf demi paragraf secara investigatif.

Mulai dari judul yang disebut sangat khas frasa AI, kemudian lead awal artikel yang disebut “sangat generik dan terlalu aman”, transisi antar paragraf sangat formulatik, hingga pada kesimpulan yang menyebutkan metode atau cara penulisan wartawan jadi-jadian yang justru merusak kaidah jurnalistik yang baik dan benar.

“Hipotesanya adalah bukan berarti seluruh artikel dimulai dari nol ditulis oleh AI. Namun ada wawancara — kutipan manusia digunakan atau dikembangkan oleh mesin AI menjadi narasi artikel berita,” kata si ChattGPT, berdasarkan cerita teman redaktur saya yang sedih melihat tingkah anak asuhnya.

Belajar dari “artikel semi palsu” yang saat ini marak dikerjakan oleh sebagian oknum wartawan jadi-jadian tersebut. Menurut hemat penulis, memang semuanya adalah sebuah pilihan. Apakah kita mau mengembangkan bakat serta kecerdasan alami milik kita sendiri yang dianugerahkan oleh Allah Azza Wajalla, atau bermain palsu dan aman sehingga periuk nasi kita aman?

Semua pilihan tentu berada dalam domain pribadi masing-masing. Yang dipilih tentu terasa baik bagi orangnya tapi diyakini akan beracun akhirnya. Dan, sebagai penutup atau akhir artikel singkat ini, silahkan saja memakai “kecerdasan buatan manusia” dengan meninggalkan kecerdasan sesungguhnya yang notabene berada di otak kita masing-masing. Bukankah buah yang masak di pohon lebih lezat rasanya ketimbang buah hasil memeram walau berwarna cerah? Sekian. (LukmanHakim)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *