BANGKA — Di tengah kuatnya sektor pertambangan timah dan perkebunan sawit di Bangka Belitung, alternatif ekonomi dari sektor hortikultura mulai dikembangkan. Budidaya pisang Cavendish kini dilakukan di Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, dengan konsep kemitraan yang melibatkan petani dan masyarakat lokal, Jumat 18 September 2026.

CV Agrifresh Tropical selaku pengembang menyebut pengembangan Cavendish di Babel merupakan bagian dari upaya membangun komoditas pertanian bernilai ekonomi dengan pasar yang lebih luas. Perusahaan yang berdiri sejak 2019 itu sebelumnya telah mengembangkan budidaya serupa di Lampung dan kini mulai memperluas pengembangan ke Babel.

“Secara garis besar, Agrifresh Tropical hadir sebagai pengembang pisang di Babel. Sebelumnya kami sudah mengembangkan di Lampung dan sejak 2019 kami bergerak di bidang ini,” ujar Direktur Utama Agrifresh, Solichin.

Dalam pola budidaya yang ditawarkan, satu hektare lahan dapat ditanami sekitar 2.000 pohon. Dengan perawatan sesuai standar, tanaman diperkirakan mulai memasuki masa panen sekitar delapan hingga sembilan bulan setelah penanaman. Produksi selanjutnya dapat dilakukan secara berkala dengan dukungan kalender pemeliharaan dan pengairan yang memadai.

“Jadi pisang ini unik, misal kita mau ekspor ke negara tujuan dan sampai disana tanggal 21, nah sebelum tanggal 21 tadi ada treatmen khusus hingga komoditi kita bisa matang tepat saat berada disana. Kuncinya ada pada pengaturan suhu, terutama suhu ruangan,” jelas salah satu Staff Produksi CV Agrifresh menambahi.

Pengembangan Cavendish juga dapat diarahkan sebagai tanaman sela pada lahan perkebunan sawit yang masih berusia muda, misalnya sekitar satu tahun. Konsep tersebut diharapkan dapat memberikan sumber pendapatan tambahan sebelum tanaman sawit memasuki masa produksi optimal, tentunya dengan memperhatikan kesesuaian lahan dan teknis budidaya.

Dari sisi tenaga kerja, masyarakat lokal menjadi bagian dari pengembangan kebun. Kegiatan perawatan dapat melibatkan warga sekitar, termasuk kaum perempuan. Petani mitra juga akan mendapatkan pendampingan mengenai manajemen kebun, mulai pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pengendalian penyakit hingga panen melalui SOP budidaya.

Namun, pengembangan Cavendish juga memiliki tantangan, salah satunya serangan virus. Karena itu, treatment khusus terhadap bibit dan lahan perlu dilakukan sebelum penanaman. Ketersediaan air juga menjadi faktor penting agar produktivitas tanaman dapat terjaga.

Dari sisi pasar, Cavendish memiliki sejumlah segmen, mulai pasar lokal hingga pasar modern. Pengembang juga menyebut terdapat peluang pasar ekspor, antara lain Jepang dan Korea Selatan.

“Pasarnya ada beberapa segmen, mulai dari pasar lokal sampai pasar modern. Bahkan ada peluang ekspor ke luar negeri seperti Jepang dan Korea Selatan,” jelasnya.

Harga pembelian di tingkat produsen disebut berada di kisaran Rp4.000 per kilogram, sementara harga distributor dapat mencapai sekitar Rp25.000 per kilogram, tergantung rantai distribusi dan kondisi pasar.

Tanaman yang telah dibudidayakan diperkirakan akan memasuki panen perdana sekitar dua minggu lagi. Selain produksi buah, limbah tanaman juga berpotensi dimanfaatkan untuk pakan sapi dan bahan baku pupuk organik, sehingga dapat dikembangkan dalam konsep pertanian terintegrasi.

Untuk memperkuat pengembangan, CV Agrifresh Tropical menyebut telah membangun sinergi dengan Universitas Bangka Belitung (UBB) dalam aspek riset dan pengembangan.

“Akademisi bisa menjadi support, terutama untuk penelitian dan pengembangan. Harapan kami ke depan bisa bersinergi dengan pemerintah, petani dan perusahaan,” katanya.

Harapannya, pemerintah, perusahaan, petani dan akademisi dapat berjalan bersama sehingga Cavendish tidak sekadar menjadi komoditas baru, tetapi menjadi salah satu alternatif diversifikasi ekonomi Babel di tengah dominasi sektor timah dan sawit.(***)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *